pikiran berceloteh

tentang suara hati

Di saat ku terjaga malam itu, dengan mata terpejam aku renungi banyak hal.

Semua yang terjadi pada hidupku dalam waktu dekat ini.

Sedihku, bahagiaku pun, ternyata air mata ini mendukung hati.

Ya Rabb, sudah baikkah aku?

Dan aku beranjak keluar, berharap ada yang temani, sekalipun itu jauh, di langit sana.

Tak sabar mata memandang, mencari cahaya pertanda kehadiran kuasa-Nya.

Ratusan, ribuan, bahkan lebih jumlah cahaya itu.

Mataku hanya mampu menangkap sebagian dari cahaya-cahaya itu.

Fa biayyi alaa’i Rabbi kuma tukadzdzi  ban

Ya Rabb, sudah bersyukurkah aku?

Aku berdiam diri.

Bergumam dalam hati, lagi.

Kali ini mataku terpaku, pada satu titik cahaya.

Ku saksikan tugasnya melengkapi langit malam, yang sunyi.

Ya Rabb sudah sadarkah aku?

Sesekali ku dengar suara kendaraan melintas, pertanda masih ada yang hidup dipijakan bumi ini.

Ku kira, hanya langit yang beraktivitas, gantikan makhluk bumi di malam hari.

Ya Rabb, andai ku tau sisa nafasku di tempat sementara ini

Kemudian ku lihat di bagian langit lain

Ah! Cahaya yang tak asing memenuhi pandanganku!

Cahaya yang sebenarnya bukan miliknya, ya seharusnya aku sadar itu

Tapi indah, sungguh indah.

Ternyata Tuhanku punya cara yang berbeda dalam memperindah makhluk-Nya

Ya Rabb, Yang Maha Membolak-balikkan hati, jadikan perubahan perasaan ini sebagai pengingatku, untuk selalu mengingat-Mu.

December 20, 2009 Posted by | cerita lagi, fiksi | 1 Comment

bukan sekedar tangis

Aku ingin menangis….

menangis karena rangkulan mereka untukku…

Aku ingin menangis….

ketika mereka menarikku untuk tetap berdiri…

Aku ingin menangis….

karena mereka tak biarkan aku hilang….

Aku ingin menangis….

menangis karena senyuman mereka menjadikan senyuman di hatiku…

Tangisku pecah…

Ketika ku merasakan kekuatan tulus mereka dalam berjuang..

Tangisku pecah…

Saat melihat jiwa raga mereka yang tak berhenti “berjalan”

Tangisku pecah…

Mendengar seruan bahagia dari suara hati mereka..

dan tangisku pecah..

Karena aku, dipilih oleh-Nya untuk bisa jadi salah satu bagian dari mereka…

Tetes air mata syukurku tidak bisa membalas banyaknya nikmat yang Dia berikan kepadaku… Terima kasih Ya Allah…

Izikan aku mengatakan..

Indah..

sangat indah, keluarga baruku….

August 30, 2009 Posted by | non fiksi | 4 Comments

Kini aku berbeda

Dahulu, aku buta…
bukan mataku yang buta, tapi hatiku di dalam diri
Dahulu, aku tuli…
bukan telingaku yang tuli, tapi hatiku di dalam diri
Dahulu, aku bisu…
bukan mulutku yang bisu, tapi hatiku di dalam diri
Dan dahulu, aku tak mengerti…
bukan otakku yang tak mengerti, tapi hatiku di dalam diri

Percayakah kalian semua, kini aku mengetahui…
Hatiku tak lagi buta digelapkan oleh dunia, karena cahaya itu datang menerangiku..
Hatiku tak lagi tuli, bisa ku dengar kabar baik dari alam kehidupan…
Hatiku tak lagi bisu, perlahan berbicara tentang kalimat-kalimat agung petunjuk kebahagiaan…
dan sekarang aku mengerti, Tuhanku masih ada di sini…

Rasa syukur tak berhenti ku panjatkan atas nikmat-Nya yang tak terhitung.

Aku yang sering “merusak”, “tidak peduli” kini diingatkan untuk belajar mengasihi dan menyayangi dengan tanganku sendiri…

Aku yang sering jalan tak tentu arah, kini ditempatkan pada tempat di mana seharusnya aku duduk, tinggal, dan hidup…

Aku takkan diam… takkan lagi diam.

Aku ingin belajar, menjadi apa yang Allah minta, mengerjakan apa yang Allah perintahkan, dan menghindari apa yang Allah larang…

Teman, bantu aku.

Bantu aku berada di tengah kebahagian sejati ini…

Kadang aku merasa malu, apakah aku pantas? Sebelum masa ini dimulai, aku hanyalah anak yang tak bisa “menjaga hati”. Aku terbawa oleh suasana dunia.

Tapi, Tuhanku menunjukkan komunitas indah ini padaku…

Jika aku boleh berjanji, aku takkan sia-siakan hadiah istimewa ini…

Alhamdulillah, Allahu Akbar ! Terima kasih Ya Allah, Engkau berikan kesempatan kepadaku yang hina ini…

dan sekarang aku katakan pada kalian..

“Kini aku berbeda…”

August 23, 2009 Posted by | cerita lagi, non fiksi | 9 Comments

Setiap kisah pasti ada akhir

Kalau ada kehidupan, pasti akan ada kematian…

Kalau ada siang pasti akan ada malam

Kalau ada hujan pasti akan ada matahari, bahkan tak jarang ada pelangi

Maka, kalau ada awal, pasti ada akhir….

Kita ”berjalan” di dunia ini pasti ada ujungnya, tak terbantahkan itu.

Hanya bagaimanakah kita mengawali, menjalani, dan mengakhirinya…

Setiap jiwa, dilahirkan ke dunia ini dalam keadaan suci…Itu jadi awal kehidupan…

Setelah itu, bagaimana menjalani hidup?

Setiap hati seorang hawa maupun seorang adam sesungguhnya punya kisah masing-masing yang tak akan sama.

Kisah itu telah ku awali, namun belum berakhir, entah kapan itu berakhir, hanya Tuhan ku Yang Maha Tahu.

Aku ingin kisahku tak kosong, atau walaupun diisi, aku tak ingin semuanya bernilai nol di mata Allah SWT.

Belajar adalah satu-satunya andalanku yang menjadi jejak kisahku. Belajar dalam pengertian yang universal. Selama Allah SWT masih menganugerahkanku udara setiap detiknya, aku akan selalu belajar…

Kisah yang ku ceritakan ini adalah kisah yang mungkin akan berakhir. Sebenarnya, tidak semua kisah berakhir itu bertanda buruk. Walaupun pandanganku terhadap kisah satu ini adalah ’negatif’ namun hati nuraniku berbisik, itu jalan terbaik.

Seindah-indahnya bunga bermekaran, ada saatnya mereka gugur dan layu, maka seindah-indahnya kisah ini, aku tak membantah kalau suatu saat nanti, ini akan berakhir.

Satu yang ku harap, berakhirnya kisah ini, bukan berarti akhir dari perjalananku karena satu-satunya tempat kekal abadi yang tak kan pernah padam hanyalah kehidupan akhiratnya Allah dan aku rela menukar segala yang ada di dunia ini demi hidup abadiku kelak. Itulah salah satu ilmu yang aku dapat dari belajar di buminya Allah.

Teman, jika kalian sedih, janganlah kalian terlalu sedih karena pasti akan ada kebahagiaan yang datang untukmu, dan jika kalian senang, janganlah kalian terlaluu senang karena dalam sekejap bisa saja Allah mengambil itu semua. Banyak-banyaklah bersyukur atas apa yang kita terima walau sebesar butir beras pun.

March 13, 2009 Posted by | cerita lagi, non fiksi | 2 Comments

Catatan Akhir Tahun

Waktu yang selalu berjalan…
Mengiringi perjalananku, mengantarkan aku ke dalam kisah hidupku, mengajarkanku nilai-nilai dalam hidup, membawaku bermimpi di setiap detiknya, dan membisikkan ku akan cinta…


2008, Tahun yang sangat dahsyat bagiku…Yang membuka mata, hati, dan pikiranku, sungguh tak sedikit yang aku dapatkan, rasakan, bahkan ku buang…

Canda, tawa, sedih, haru, semua ku dapati di tahun yang beberapa jam lagi akan berkahir.

Catatan ini kutulis untuk mengenang semuanya… mengingatkan aku pada diriku sendiri, orang-orang di sekitarku, dan kejadian-kejadian yang ada di duniaku, yang membuat ku belajar, belajar, dan belajar. Cinta, mimpi, perjuangan, dan yang terpenting, hidup.

Januari…

Aku membuat plan setahun ke depan, tentu plan untuk berubah menjadi lebih baik, dan satu yang ku pikirkan, membahagiakan orang tua melalui sekolahku. Saat itu aku down dan banyak hal yang menyebabkannya tak lupa sebab itu pun berakibat. Jujur, aku adalah anak yang selalu memikirkan prestasi, pengembanganku belajar di sekolah, dan jika itu menurun, hal pertama yang ku cemasi adalah orang tuaku. Sisi pribadiku selalu mengatakan “It doesn’t matter” karena aku yakin, aku terjatuh maka aku akan cari cara untuk bangun. Entah apa yang ayah dan ibu pikirkan tentangku. Tapi aku selalu berusaha.

Februari…

Bulannya cinta. Tumbuh dan bertebaran di mana-mana. Tak asing lagi ku dengar “PJ dong, PJ…” atau “Lu jadian?wah…langgeng ya” dan masih banyak lagi. Itu pun dialami oleh teman-teman dekatku, sekali lagi teman-teman. Itu berarti memang lebih dari satu temanku. Bahagia melihat mereka bahagia, hari-harinya ditaburi cinta. AKU? Kalau dilihat dari 4 anak 9A yang bersahabat, bisa dibilang cuma aku yang “sendiri”. Tapi sudahlah, setiap aku merasa iri dengan teman-temanku yang dikasihi, aku selalu inget kata mamaku, sekarang masih waktunya aku buat menuntut ilmu, nanti ada saatnya aku mengurus kisah cintaku. Tapi tak sekarang. Namun, sebagai seorang remaja yang normal, aku sering mengagumi, bahkan pernah terlintas ingin memiliki, tetapi kembali aku diingatkan. Jangan sekarang rin, jangan. Dan Februari pun ku lewati dengan belajar menahan diri untuk tidak pacaran.

Maret…

Hm… nothing special. Eh, ada yang spesial! 20 Maret, my father’s birthday :D semakin sayang ayah. Beliau selalu mendorongku untuk lebih maju agar bisa jadi anak yang bener-bener berguna. Satu ceritanya yang tak pernah ku lupa, dan tak akan pernah, ayah selalu bilang…

Rin, jadi kamu tuh enak…makan tinggal ambil, sekolah juga dianter, belajar tinggal nulis dan ga mikirin biaya..hidup sangat mencukupi. Belajar yang bener, mama papa dulu itu ga seenak kamu, tapi bisa berhasil, kalau kamu ga berhasil, malu kamu..”

Bener juga. Sejenak aku berpikir dan ingat kalau ayah ibuku itu bener-bener berjuang buat bisa hidup. dilihat dari sejarah keluarga, memang semasa mereka remaja, istilahnya tak ada kata “foya-foya”, mau foya-foya gimana? Makan aja susah. Begitu juga ibu. Tapi mereka sangat gigih, sehingga saat masanya mereka “hidup”, keadaan berbalik, dan alhamdulillah sebagai anaknya aku kena imbas keberhasilan mereka. Aku bangga pada ayah. Kadang aku suka malu kalau ayah mendapatiku yang senang menghabiskan uang bersama teman-teman. Dan lagi-lagi aku belajar.

April…

Bulan perubahan, di mana hidupku mulai berputar, seperti kebanyakan orang bilang bahwa hidup itu seperti roda. Alhasil, aku merasakannya. Satu hal yang terlihat benar-benar berbalik adalah cinta. Cintaku. Seketika ada seseorang yang memasuki hidupku, saat itu aku hanya berharap ia bisa menemani hari-hariku, walau selalu teringat dalam benakku bahwa “Jika ada pertemuan pasti ada perpisahan.” April mengawali semuanya.

Mei…

Aku masih bersamanya, tapi bukan sebagai pacar, bukan sebagai kekasih yang hari-harinya diselimuti cinta, melainkan sebagai teman. Teman hidup, eh tapi aku paling senang memanggilnya teman bercerita. Hari-hariku kembali berubah, semenjak kenal dengannya, sungguh aku lebih ceria, bahagia sekali dan di Bulan Mei aku berharap…Andai waktu berhenti, dia tak kan pernah pergi.

Juni…

Semakin dekat. Aku mulai terbiasa dengan keadaan seperti ini. Kadang tersenyum, tak jarang pula aku terisak karenanya, tapi satu yang ku pegang teguh, “Sesudah kesulitan itu, pasti ada kemudahan.” dan aku sangat yakin itu. Juni, thanks for being my wonderful teacher.

Juli…

Jadi panitia MOS itu ga gampang…” banyak yang harus ku kerjakan demi menjadi sosok contoh adik-adik kelasku itu. Aku mulai belajar menjadi pribadi lebih baik sejak dipercaya menjadi salah satu panitia. Juli, bulannya perbaikan.

Agustus….

Indonesia.. tanah airku, tanah tumpah darahku.

Independence day, August 17th 2008 itu sedikit berbeda. Memang khusus tahun ini, aku ga ikut serta dalam perlombaan, jelas aku pikirkan usiaku ini. :D Yang berbeda adalah salah satu stasiun TV yang menayangkan acara kemerdekaan yang menurutku bisa membangkitkan semangat jiwa Pancasila, terlebih yang membuatku lebih bersemangat adalah seorang temanku, teman sekelasku, Laila Mauhibah yang berprestasi di Tingkat Internasional membuat hatiku terharu, sempat terlintas bahwa aku iri dengannya. Mungkin dari keirianku itu, lagi-lagi aku belajar untuk selalu bekerja keras dan selalu berprestasi di bidangku. Agustus, membuatku tambah cinta Indonesia, bumi pertiwiku, di mana aku lahir, tumbuh, dan tentu saja, hidup.

September…

Sungguh aku bersyukur, tanggal 1 September 2008 yang bertepatan dengan hari ulangg tahunku yang ke-14 itu sama dengan hari pertama Bulan Ramadhan. Aku berharap, Bulan September, Bulan yang mengurangi umurku itu bisa banyak memberiku pelajaran sebelum umurku diambil selama-lamanya.

Oktober…

Idul Fitri datang, kembali suci. Itu doaku. Aku senang, Idul Fitri tahun ini, ada teman yang menemaniku, teman bercerita, setiap hari. Sekali lagi, setiap hari, sehingga aku bisa lebih dalam mengenalnya. Begitu pula ia. Namun, pertengahan Oktober, ku dengar lirik yang tak asing bagiku…

“Dulu kita sahabat, teman begitu hangat, mengalahkan sinar mentari.. Dulu kita sahabat, berteman bagai ulat, berharap jadi kupu-kupu..”

Aku senang mendengar lirik itu, namun…

“Kini kita melangkah berjauh-jauhan, kau jauhi diriku karena sesuatu, mungkin ku terlalu bertindak kejauhan, namun itu karena ku sayang!”

Itulah yang ku dapati darinya. Mendengar itu, banyak sekali pikiran dalam keadaanku. Apa aku salah? Tindakan apa yang aku lakukan?Apa mungkin ini awal berubaah lagi?Entahlah…

Oktober, Bulan tak terlupakan walau ingin sekali ku tinggalkan.

November…

Kalau bisa ku ringkas dengan satu kata, aku akan meringkasnya dengan kata “sakit”. Sungguh apa yang kuduga sebelumnya, terjadi pada bulan ini. Menjauh…menjauh… semakin menjauh…hingga ku terka ini akan menghilang, dari kehidupanku. Namun kembali aku mengingat, hidupku bukan saja untuk dia. Masih banyak yang dapat ku kerjakan, yang lebih bahagia dari ini, sehingga saat ku tengok ayah ibuku, ku lirik sahabat-sahabat setiaku, dan ku telusuri mimpi-mimpiku, semangat pun tumbuh dalam diriku. Dilarang stuck! November, Bulanku melawan “perang kebahagiaan sementara”.

Desember…

Terakhir, namun ku tempatkan Bulan ini di peringkat pertama dalam hatiku. Semua berkumpul dalam bulan ini. Ku katakan sekali lagi SEMUA. Itu artinya segala hal yang pernah terjadi selama setahun ini berkolaborasi menjadi sesuatu yang padu yang dapat merubah raut wajahku di setiap harinya. Bahagia? benar..aku sangat bahagia. Jika dapat ku bagi kebahagiaanku ini, akan ku pisahkan menjadi dua, yaitu kebahagiaan atas kebahagiaanku dan kebahagiaan atas kesakitanku. Aku bahagia karena hatiku bahagia dan aku bahagia ketika hatiku sakit. Bulan pengorbanan ini membuatku mengingatkan beberapa bulan lalu, tetapi ini lebih menyakitkan. Jujur, air mata yang jatuh di setiap detik waktuku itu membuat segalanya masuk dalam memoriku. Aku mengalaminya lagi, dan lagi. Pengorbanan akan cinta, cinta yang harus kulepas, cinta yang kuyakini akan lebih bersemi jika bukan denganku. Aku ikhlas, dan takkan ku ucapkan kata “tapi” setelah ikhlas tersebut. Biarlah berlalu karena ku yakin akan datang sesuatu yang baru, yang siap menjadi guruku.

Aku tak perlu menunggu lama untuk membuktikan suara hatiku karena pertengahan Desember aku merasakannya. Ada hati lain yang kembali menghiasi hariku, kembali bukan sebagai pacar, tapi.. hmm.. teman… atau kakak?Ya..kakak. Ku anggap demikian. Secret admirer, CIDAHA, itu kata-kata yang pantas untukku. Jujur, aku senang! Tanpa beban, tanpa masalah. Desember, kau adalah review dari semua bulan di tahun 2008 ini.

Hingga malam ini, aku meringkas semuanya dalam catatan kecilku, tetapi wakil untuk keseluruhan hatiku, Catatan akhir tahun.

Welcome 2009! You’re my next life teacher. And you, 2008, thanks for everything, you gave me love, laugh, and LIFE.

Happy new year all :D

January 1, 2009 Posted by | cerita lagi, non fiksi | 21 Comments

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.