Catatan Akhir Tahun
Waktu yang selalu berjalan…
Mengiringi perjalananku, mengantarkan aku ke dalam kisah hidupku, mengajarkanku nilai-nilai dalam hidup, membawaku bermimpi di setiap detiknya, dan membisikkan ku akan cinta…
2008, Tahun yang sangat dahsyat bagiku…Yang membuka mata, hati, dan pikiranku, sungguh tak sedikit yang aku dapatkan, rasakan, bahkan ku buang…
Canda, tawa, sedih, haru, semua ku dapati di tahun yang beberapa jam lagi akan berkahir.
Catatan ini kutulis untuk mengenang semuanya… mengingatkan aku pada diriku sendiri, orang-orang di sekitarku, dan kejadian-kejadian yang ada di duniaku, yang membuat ku belajar, belajar, dan belajar. Cinta, mimpi, perjuangan, dan yang terpenting, hidup.
Januari…
Aku membuat plan setahun ke depan, tentu plan untuk berubah menjadi lebih baik, dan satu yang ku pikirkan, membahagiakan orang tua melalui sekolahku. Saat itu aku down dan banyak hal yang menyebabkannya tak lupa sebab itu pun berakibat. Jujur, aku adalah anak yang selalu memikirkan prestasi, pengembanganku belajar di sekolah, dan jika itu menurun, hal pertama yang ku cemasi adalah orang tuaku. Sisi pribadiku selalu mengatakan “It doesn’t matter” karena aku yakin, aku terjatuh maka aku akan cari cara untuk bangun. Entah apa yang ayah dan ibu pikirkan tentangku. Tapi aku selalu berusaha.
Februari…
Bulannya cinta. Tumbuh dan bertebaran di mana-mana. Tak asing lagi ku dengar “PJ dong, PJ…” atau “Lu jadian?wah…langgeng ya” dan masih banyak lagi. Itu pun dialami oleh teman-teman dekatku, sekali lagi teman-teman. Itu berarti memang lebih dari satu temanku. Bahagia melihat mereka bahagia, hari-harinya ditaburi cinta. AKU? Kalau dilihat dari 4 anak 9A yang bersahabat, bisa dibilang cuma aku yang “sendiri”. Tapi sudahlah, setiap aku merasa iri dengan teman-temanku yang dikasihi, aku selalu inget kata mamaku, sekarang masih waktunya aku buat menuntut ilmu, nanti ada saatnya aku mengurus kisah cintaku. Tapi tak sekarang. Namun, sebagai seorang remaja yang normal, aku sering mengagumi, bahkan pernah terlintas ingin memiliki, tetapi kembali aku diingatkan. Jangan sekarang rin, jangan. Dan Februari pun ku lewati dengan belajar menahan diri untuk tidak pacaran.
Maret…
Hm… nothing special. Eh, ada yang spesial! 20 Maret, my father’s birthday
semakin sayang ayah. Beliau selalu mendorongku untuk lebih maju agar bisa jadi anak yang bener-bener berguna. Satu ceritanya yang tak pernah ku lupa, dan tak akan pernah, ayah selalu bilang…
“Rin, jadi kamu tuh enak…makan tinggal ambil, sekolah juga dianter, belajar tinggal nulis dan ga mikirin biaya..hidup sangat mencukupi. Belajar yang bener, mama papa dulu itu ga seenak kamu, tapi bisa berhasil, kalau kamu ga berhasil, malu kamu..”
Bener juga. Sejenak aku berpikir dan ingat kalau ayah ibuku itu bener-bener berjuang buat bisa hidup. dilihat dari sejarah keluarga, memang semasa mereka remaja, istilahnya tak ada kata “foya-foya”, mau foya-foya gimana? Makan aja susah. Begitu juga ibu. Tapi mereka sangat gigih, sehingga saat masanya mereka “hidup”, keadaan berbalik, dan alhamdulillah sebagai anaknya aku kena imbas keberhasilan mereka. Aku bangga pada ayah. Kadang aku suka malu kalau ayah mendapatiku yang senang menghabiskan uang bersama teman-teman. Dan lagi-lagi aku belajar.
April…
Bulan perubahan, di mana hidupku mulai berputar, seperti kebanyakan orang bilang bahwa hidup itu seperti roda. Alhasil, aku merasakannya. Satu hal yang terlihat benar-benar berbalik adalah cinta. Cintaku. Seketika ada seseorang yang memasuki hidupku, saat itu aku hanya berharap ia bisa menemani hari-hariku, walau selalu teringat dalam benakku bahwa “Jika ada pertemuan pasti ada perpisahan.” April mengawali semuanya.
Mei…
Aku masih bersamanya, tapi bukan sebagai pacar, bukan sebagai kekasih yang hari-harinya diselimuti cinta, melainkan sebagai teman. Teman hidup, eh tapi aku paling senang memanggilnya teman bercerita. Hari-hariku kembali berubah, semenjak kenal dengannya, sungguh aku lebih ceria, bahagia sekali dan di Bulan Mei aku berharap…Andai waktu berhenti, dia tak kan pernah pergi.
Juni…
Semakin dekat. Aku mulai terbiasa dengan keadaan seperti ini. Kadang tersenyum, tak jarang pula aku terisak karenanya, tapi satu yang ku pegang teguh, “Sesudah kesulitan itu, pasti ada kemudahan.” dan aku sangat yakin itu. Juni, thanks for being my wonderful teacher.
Juli…
“Jadi panitia MOS itu ga gampang…” banyak yang harus ku kerjakan demi menjadi sosok contoh adik-adik kelasku itu. Aku mulai belajar menjadi pribadi lebih baik sejak dipercaya menjadi salah satu panitia. Juli, bulannya perbaikan.
Agustus….
“Indonesia.. tanah airku, tanah tumpah darahku.“
Independence day, August 17th 2008 itu sedikit berbeda. Memang khusus tahun ini, aku ga ikut serta dalam perlombaan, jelas aku pikirkan usiaku ini.
Yang berbeda adalah salah satu stasiun TV yang menayangkan acara kemerdekaan yang menurutku bisa membangkitkan semangat jiwa Pancasila, terlebih yang membuatku lebih bersemangat adalah seorang temanku, teman sekelasku, Laila Mauhibah yang berprestasi di Tingkat Internasional membuat hatiku terharu, sempat terlintas bahwa aku iri dengannya. Mungkin dari keirianku itu, lagi-lagi aku belajar untuk selalu bekerja keras dan selalu berprestasi di bidangku. Agustus, membuatku tambah cinta Indonesia, bumi pertiwiku, di mana aku lahir, tumbuh, dan tentu saja, hidup.
September…
Sungguh aku bersyukur, tanggal 1 September 2008 yang bertepatan dengan hari ulangg tahunku yang ke-14 itu sama dengan hari pertama Bulan Ramadhan. Aku berharap, Bulan September, Bulan yang mengurangi umurku itu bisa banyak memberiku pelajaran sebelum umurku diambil selama-lamanya.
Oktober…
Idul Fitri datang, kembali suci. Itu doaku. Aku senang, Idul Fitri tahun ini, ada teman yang menemaniku, teman bercerita, setiap hari. Sekali lagi, setiap hari, sehingga aku bisa lebih dalam mengenalnya. Begitu pula ia. Namun, pertengahan Oktober, ku dengar lirik yang tak asing bagiku…
“Dulu kita sahabat, teman begitu hangat, mengalahkan sinar mentari.. Dulu kita sahabat, berteman bagai ulat, berharap jadi kupu-kupu..”
Aku senang mendengar lirik itu, namun…
“Kini kita melangkah berjauh-jauhan, kau jauhi diriku karena sesuatu, mungkin ku terlalu bertindak kejauhan, namun itu karena ku sayang!”
Itulah yang ku dapati darinya. Mendengar itu, banyak sekali pikiran dalam keadaanku. Apa aku salah? Tindakan apa yang aku lakukan?Apa mungkin ini awal berubaah lagi?Entahlah…
Oktober, Bulan tak terlupakan walau ingin sekali ku tinggalkan.
November…
Kalau bisa ku ringkas dengan satu kata, aku akan meringkasnya dengan kata “sakit”. Sungguh apa yang kuduga sebelumnya, terjadi pada bulan ini. Menjauh…menjauh… semakin menjauh…hingga ku terka ini akan menghilang, dari kehidupanku. Namun kembali aku mengingat, hidupku bukan saja untuk dia. Masih banyak yang dapat ku kerjakan, yang lebih bahagia dari ini, sehingga saat ku tengok ayah ibuku, ku lirik sahabat-sahabat setiaku, dan ku telusuri mimpi-mimpiku, semangat pun tumbuh dalam diriku. Dilarang stuck! November, Bulanku melawan “perang kebahagiaan sementara”.
Desember…
Terakhir, namun ku tempatkan Bulan ini di peringkat pertama dalam hatiku. Semua berkumpul dalam bulan ini. Ku katakan sekali lagi SEMUA. Itu artinya segala hal yang pernah terjadi selama setahun ini berkolaborasi menjadi sesuatu yang padu yang dapat merubah raut wajahku di setiap harinya. Bahagia? benar..aku sangat bahagia. Jika dapat ku bagi kebahagiaanku ini, akan ku pisahkan menjadi dua, yaitu kebahagiaan atas kebahagiaanku dan kebahagiaan atas kesakitanku. Aku bahagia karena hatiku bahagia dan aku bahagia ketika hatiku sakit. Bulan pengorbanan ini membuatku mengingatkan beberapa bulan lalu, tetapi ini lebih menyakitkan. Jujur, air mata yang jatuh di setiap detik waktuku itu membuat segalanya masuk dalam memoriku. Aku mengalaminya lagi, dan lagi. Pengorbanan akan cinta, cinta yang harus kulepas, cinta yang kuyakini akan lebih bersemi jika bukan denganku. Aku ikhlas, dan takkan ku ucapkan kata “tapi” setelah ikhlas tersebut. Biarlah berlalu karena ku yakin akan datang sesuatu yang baru, yang siap menjadi guruku.
Aku tak perlu menunggu lama untuk membuktikan suara hatiku karena pertengahan Desember aku merasakannya. Ada hati lain yang kembali menghiasi hariku, kembali bukan sebagai pacar, tapi.. hmm.. teman… atau kakak?Ya..kakak. Ku anggap demikian. Secret admirer, CIDAHA, itu kata-kata yang pantas untukku. Jujur, aku senang! Tanpa beban, tanpa masalah. Desember, kau adalah review dari semua bulan di tahun 2008 ini.
Hingga malam ini, aku meringkas semuanya dalam catatan kecilku, tetapi wakil untuk keseluruhan hatiku, Catatan akhir tahun.
Welcome 2009! You’re my next life teacher. And you, 2008, thanks for everything, you gave me love, laugh, and LIFE.
Happy new year all
21 Comments »
Leave a Reply
-
Archives
- December 2009 (1)
- August 2009 (2)
- March 2009 (1)
- January 2009 (1)
- October 2008 (2)
-
Categories
-
RSS
Entries RSS
Comments RSS
kerenzz nih catatan akhir tahun…..
sama rin, dia bkin w juga iri, kenapa dia bisa tapi w gak bisa….
tp setelah itu nget kata2 guru les w…
“setiap orang dapat menang dalam suatu persaingan”
dan itu yang membuat w menghilangkan keirian itu!
u bakat jadi penulis rin..
Comment by Fikri Fulkiadli | January 1, 2009
@fikri :
hehehe makasih makasih
bener tuh kata guru les lu…adeuh fikri ingetnya dia aja hahahhaahay…
mari terus berusaha
Comment by arin loves23 | January 1, 2009
wah bnr bgt teh . 2008 thn yg superduper amatsangat ok indah menyenangkan !!
sama , bln april awal dr kisah c*n*a ku d mulai . hahaha…
t arin brbakat bgt sich jd pnulis,,tlsan t arin mnarik bgt, bhsany keren ! hho..
Comment by debby | January 1, 2009
ariin keren banget catatan akhir taunnya . yg bln2 april tuh mulai dalem
rin, knp itu ga dibukukan aja ? heu
Comment by raras | January 1, 2009
@raras :
hehehe, iya April ras emg memulai segalanya hhi…
Makasih makasih, dibukukan?khayalan yg msh terlalu tinggi hohoho..
Comment by arin loves23 | January 1, 2009
@ debby :
kisah cintanya ama siapa tuh hihii.. toss atuh klo gitu 
adeuuh debby
hahaha makasih makasih, aku ga bakat kok, cuma seneng cerita aja hehehehe
Comment by arin loves23 | January 1, 2009
weitsss .
okeh okeh .
tapi rin ntar coba deh mkn diperinci lagi .
biar lbh seru lg jga .
okai ??
Comment by ACHIEY AIUEO | January 1, 2009
adoooo…. kpencet…
Comment by pembela kebenaran | January 1, 2009
adoooo…. kpencet…
Comment by GnDa | January 1, 2009
@achiey :
awkaaay ntar kalo gw bikin review lagi lebih terperinci deh hehe habis mau vulgar takuuut XD
@pembela kebanaran VS GnDa :
kepenncet adooo… hahaha -_-’
Comment by arin loves23 | January 1, 2009
Weww… 20 maret ultah bkap lu… Sama kea raras siaaah.. Hehehaha.
sept 1, ultah lu.. Sma kea nykap gw siiaaahh..
Hehehaha..
Comment by GnDA | January 2, 2009
@gnDA :
wew wonderful ! *hahaha yaudah sih*
Comment by arin loves23 | January 2, 2009
wah sip dah
wkwkwwkwk
gahol2 deh arin mah
Comment by topik awe | January 2, 2009
wew keren2
gahol deh arin mah
Comment by topik awe | January 2, 2009
@ topik awe :
hahahaha -_-’
Comment by arin loves23 | January 2, 2009
Subhanallah..bngung mau ngmng apa.. Saking bgus’x teh..
Keprok keprok lah buat teh arin. Kata-katanya keren bgt teh.
taun 2008 taun yg istimewa.. pola pikir sudah mulai brubah, mendapatkan arti sahabat, dan merasakan cinta..hhe
Comment by Regia jiaKAKAkak | January 6, 2009
@RegiajiKAKAkak :
emang, 2008 was AMAJING!
hehehehe makasih gia
Comment by arin loves23 | January 6, 2009
postingannya emang udah lama, tapi postingan arin ngingetin tuti sama beberapa hal yang mirip yang pernah tuti alamin juga waktu SMP
Comment by tuti | September 17, 2009
@teh tuti :
hehe iya teh, kalo sekarang inget masa SMP tuh suka kerasa konyol sendiri, jamannya masih main2, untuk sekarang smansa menjagaku
Comment by Linea Alfa Arina | September 17, 2009
“smansa menjagaku
” hahaha jaga smansa ya arin 
iyaaaaaaaa arin jadi penulis deh ! bikin buku ! ;D
Comment by Atana Sarah Dinda Nadhirah | September 29, 2009
@teh atana : YAP
InsyaAllah aku akan jaga smansaku, smansa kita
Comment by Linea Alfa Arina | December 20, 2009